Di negeri kita ini, banyak peringatan hari bersejarah yang memiliki makna bukan saja seremonial atau sekadar hura-hura. Misalnya, peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus. Kemudian sebelumnya, khususnya para remaja, juga merayakan hari istimewa, yaitu Hari Remaja, pada tanggal 12 Agustus. Sedangkan untuk anak-anak, tanggal 23 Juli diperingati sebagai Hari Anak Nasional. Nah, apakah makna dari peringatan Hari Anak Nasional?
Hari Anak Nasional memiliki arti strategis dan momentum untuk menggugah kepedulian dan partisipasi seluruh bangsa Indonesia dalam menghormati dan menjamin hak-hak anak tanpa diskriminasi, memberikan yang terbaik bagi anak, menjamin semaksimal mungkin kelangsungan hidup dan perkembangan anak, serta menghargai pendapat anak.
Hak-hak anak dijamin oleh sebuah konvensi yang dinamakan Konvensi Hak Anak (KHA). KHA adalah perjanjian antarbangsa mengenai hak-hak anak. Konvensi atau konvenan adalah kata lain dari "treaty" (traktat, pakta) yang merupakan perjanjian di antara beberapa negara. Perjanjian ini bersifat mengikat secara hukum dan politis. Jadi artinya, semua negara yang ikut menandatangani KHA harus mengakui dan memenuhi hak-hak anak. KHA disetujui oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 20 November 1989 dan disahkan mulai berlaku sebagai hukum internasional pada tanggal 2 September 1989.
Indonesia meratifikasi KHA dengan Keputusan Presiden Nomor 36 tahun 1990 tanggal 25 Agustus 1990. Tetapi, mulai diberlakukan di Indonesia pada tanggal 5 Oktober 1990. Pada tanggal 22 Oktober 2002, Indonesia telah membuat UU No. 23/2002 tentang Perlindungan Anak.
Hak-hak anak melekat dalam diri setiap anak dan merupakan bagian dari hak asasi manusia. Sesuai dengan prinsip-prinsip yang dinyatakan dalam Piagam PBB, hak-hak anak merupakan pengakuan atas martabat yang sama dan tidak dapat dicabut, yang dimiliki oleh seluruh angota keluarga manusia, merupakan landasan dari kemerdekaan, keadilan, dan perdamaian di seluruh dunia.
Jadi, semua anak memiliki hak-hak yang diakui oleh negara. Hal ini harus dipahami agar siapa pun dapat menempatkan diri dalam kerangka yang tepat untuk memastikan bahwa hak-hak anak tidak dilanggar dan dipenuhi oleh negara dan masyarakat. Setiap orang harus mengetahui bahwa anak memiliki hak sehingga bisa menjadi dasar perubahan untuk kehidupan yang lebih baik.
Prinsip-prinsip yang terkandung dalam KHA adalah:
1. nondiskriminasi, artinya semua hak yang terkandung dalam KHA harus diberlakukan kepada setiap anak tanpa membeda-bedakan anak atas dasar agama, ras, suku, budaya, dan jenis kelamin;
2. hal terbaik menyangkut kepentingan hidup anak harus menjadi pertimbangan;
3. hak anak untuk tetap hidup dan berkembang sebagai manusia harus dijamin; dan
4. anak harus dihargai dan didengarkan ketika mengeluarkan pendapat (partisipasi).
Apa yang Bisa Dilakukan?
Dengan memahami bahwa semua anak memiliki hak yang diakui oleh undang-undang, maka ini menjadi dasar legal dan kekuatan bagi anak untuk meminta semua pihak menjamin pemenuhan hak-hak tersebut.
1. Dorong anak untuk mendiskusikan dalam kelompoknya bahwa setiap anak memiliki hak dan diakui oleh negara. Termasuk bagaimana hak-hak ini memengaruhi kehidupan sebagai seorang anak.
2. Buat daftar kejadian-kejadian yang dialami anak, yang termasuk perlakuan pelanggaran hak anak. Tuliskan siapa saja pihak yang melanggar hak-hak tersebut dan di mana saja terjadi.
3. Minta dukungan lembaga swadaya masyarakat atau relawan untuk membantu mendiskusikan aspek-aspek hak anak dan bagaimana caranya kita dapat berperan mengatasi kasus pelanggaran hak anak.
4. Bekerjalah dengan media. Cari teman yang bisa membantu untuk memublikasikan pelanggaran-pelanggaran hak anak dan respons yang dibutuhkan. Hal ini bisa dimulai dari majalah dinding di sekolah.
5. Tentukan bagaimana kita, sebagai anak atau pihak yang peduli, akan bersikap terhadap kondisi tersebut. Galang dukungan agar kuat. Lalu, suarakan apa yang kita inginkan.
6. Terus pantau hal-hal positif dan negatif yang muncul dari aksi yang kita lakukan.
Karena anak-anak adalah bagian dari hak asasi manusia, maka tidak ada ruang untuk menolak pemenuhannya, apapun alasannya. Membiarkan hak-hak anak dilanggar sama dengaa membiarkan pelanggaran yang lebih besar akan terjadi kepada banyak anak lainnya. Jadi, hentikan pelanggaran hak anak dengan menyuarakan bahwa kita "menolak pelanggaran hak anak"!
Senin, 07 Februari 2011
KEWAJIBAN ORANG TUA
Semua orang tua bertanggung jawab untuk menetapkan batasan bagi anak-anak mereka. Kita memastikan mereka memakan makanan yang baik, memakai pakaian yang pantas, dan tidur pada waktunya. Ketika mereka bertambah besar, kita mengurangi batasan mereka, memberi mereka lebih banyak kebebasan untuk menentukan pilihan mereka sendiri, sambil tetap memerhatikan dari dekat, siap untuk bertindak bila diperlukan. Tujuan utama menetapkan batasan dalam kehidupan anak-anak kita adalah agar mereka dapat menetapkan batas-batas tanggung jawab mereka sendiri saat mereka kelak meninggalkan lingkungan keluarga.
Dengan mudah kita dapat melihat bahwa di dunia sekeliling kita, proses menetapkan batasan ini sudah tidak berjalan dengan semestinya. Kisah-kisah heboh di surat kabar tentang perilaku anak-anak yang lepas kendali sebenarnya hanya mengungkapkan sebagian kecil saja di antara begitu banyak kisah lainnya yang tidak sempat menjadi berita utama. Mengapa hal ini terjadi? Dan yang lebih penting lagi, teladan apa yang dapat kita berikan sebagai orang tua Kristen bagi keluarga-keluarga yang belum percaya? Mustahil menuliskan seluruh alasan kegagalan orang tua melaksanakan peran mereka sebagai pembuat batasan dalam keluarga sekarang ini, tetapi marilah kita menyinggung beberapa di antaranya:
1. Kedua orang tua bekerja di luar rumah mengakibatkan sejumlah besar anak harus tinggal di rumah sendirian sebelum dan setelah sekolah, demikian juga selama liburan sekolah. Pada dasarnya, anak-anak ini dibiarkan tumbuh sendiri.
2. Orang tua ingin bersikap "adil". Bagaimana kita dapat berkata "tidak" pada anak-anak kita sementara semua temannya diperbolehkan melakukan hal itu? Orang tua ingin menjadi teman bagi anak-anaknya. Dalam perjalanan membesarkan anak, orang dewasa biasanya akan sampai pada tahapan di mana mereka berharap keturunannya dapat memandang mereka sebagai rekan yang setara.
3. Masyarakat secara keseluruhan memperlihatkan toleransi yang semakin tinggi terhadap dosa dalam bentuk kekerasan yang diperlihatkan di berbagai media massa, isi yang berbau seks, dan penyimpangan tingkah laku.
Keluarga Kristen pun tidak terlepas dari situasi semacam ini. Namun, bagaimana cara kita menanganinya, itulah yang akan membuat perbedaan. Dengan menuruti perintah Allah, kita dapat memberikan teladan yang baik bagi orang lain dan pada saat yang sama memberikan kesaksian tentang iman kita kepada Yesus Kristus dan iman kita akan pemeliharaan Allah.
Hadir untuk Mengasuh
Peran Ibu
Sekarang ini, bukanlah hal yang aneh bila kedua orang tua bekerja, setidaknya bekerja paruh waktu. Dengan terus meningkatnya biaya hidup dan pendidikan, baik suami maupun istri dituntut untuk mencari nafkah demi menyokong keluarga mereka. Secara umum, diketahui dan diyakini bahwa karena tuntutan inilah, nilai-nilai kehidupan dan kerohanian keluarga telah terkena dampaknya. Dan karena alasan ini pula, sebaiknya setiap orang tua Kristen meninjau situasi keuangan mereka untuk menentukan apakah mereka bekerja karena mereka memang membutuhkan uang atau karena mereka ingin memenuhi target pendidikan dan cita-cita mereka serta menjalani hidup mewah. Perkataan berikut ini mungkin akan menyinggung cara hidup masyarakat modern, namun cukup pantas untuk direnungkan: "Keluarga akan mengalami masalah jika di rumah tidak ada sedikitnya satu orang tua yang mengasuh anak."
"Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu." (Kej. 2:21-22).
Allah menciptakan wanita dari pria dan Ia menjadikan mereka berbeda untuk mengisi peran yang berbeda. Kita tahu bahwa pada hakikatnya wanita diperlengkapi dengan kemampuan untuk mengasuh dan memberi dukungan yang lebih baik dibandingkan pria. Dengan kehadirannya dalam tahun-tahun kritis pembentukan kepribadian, karakter, dan kebiasaan anak, ibu dapat melatih anak dengan lebih baik dalam jalan yang harus ditempuhnya.
Ketika istri menunaikan peran ini, suami dapat memenuhi perannya sebagai pemimpin rohani dan pemberi nafkah dengan lebih baik. Allah tidak ingin wanita bersaing dengan pria dalam hal ini, meskipun wanita tentu saja dapat dan harus memberikan bimbingan rohani bagi anak-anak mereka, serta memelihara keluarga dengan berbagai cara lainnya.
Namun, sekalipun seorang ibu telah memutuskan untuk tinggal di rumah selama tahun-tahun pembentukan dalam kehidupan anaknya, hal ini belumlah menjamin bahwa anak itu kelak akan menjadi seorang yang penurut dan penuh hormat. Dibutuhkan komitmen yang kuat, tekad, pengendalian diri, kebijaksanaan, iman kepada Tuhan, dan kasih yang besar untuk dapat menjadi seorang ibu yang sukses. Sekadar tinggal di rumah dan menjadi penjaga bayi bukanlah cara yang tepat untuk membesarkan seorang anak. Ia harus siap untuk menjadi seorang guru, perawat, tukang (untuk memperbaiki mainan yang rusak), supir, atlet, dan yang paling penting, hamba Tuhan.
Amsal 31 memberikan deskripsi yang indah tentang karakteristik seorang istri dan ibu yang sempurna. Wanita yang digambarkan dalam pasal ini, meski kemungkinan besar adalah suatu karakter gabungan, dengan indah melukiskan segala yang dapat dilakukan seorang wanita untuk kebaikan keluarganya.
Sedapat mungkin, wanita Kristen harus menolak godaan untuk bekerja di luar rumah jika tidak benar-benar perlu. Mintalah agar Tuhan menunjukkan jalan untuk menyesuaikan kondisi keuangan Anda sehingga Anda tidak perlu bekerja ketika anak-anak Anda berada di rumah. Tentu saja, ini haruslah merupakan keputusan pribadi, yang dibuat bersama suami Anda dan dengan doa.
Jika bekerja adalah satu-satunya pilihan Anda untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Anda harus mencari pekerjaan yang paling tidak mengganggu kehidupan keluarga Anda atau mungkin suatu pekerjaan yang dapat Anda lakukan ketika anak-anak berada di sekolah atau ketika suami Anda ada di rumah untuk menjaga anak-anak. Anak-anak membutuhkan orang tuanya dan keluarga yang belum percaya perlu melihat bahwa umat Kristen bersedia melakukan pengorbanan dalam hidup mereka demi kebaikan anak-anak mereka.
Peran Ayah
"Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang." (Mzm. 127:3-5).
Dengan ibu yang berkonsentrasi menjadi pengasuh utama, ayah dapat lebih memusatkan perhatian dalam melakukan perannya sebagai pemimpin rohani keluarga, melatih anak-anaknya menjadi anak-anak Tuhan melalui teladannya.
Allah ingin agar setiap keluarga menjadi keluarga yang penuh kasih. Sebagai ayah, kita harus bertanya pada diri sendiri apakah kita penuh kasih, tidak hanya terhadap keluarga kita, tetapi juga menjalankan kasih seorang Kristen terhadap Tuhan, domba-domba-Nya, dan jiwa-jiwa yang tersesat. Allah juga ingin agar setiap keluarga menjadi keluarga yang berdoa. Sebagai pemimpin rohani dalam keluarga, apakah kita memberikan teladan? Apakah kehidupan doa kita kuat, sedang-sedang saja, atau lemah? Sudahkah kita mengajarkan pentingnya dan berharganya doa yang efektif dan membaca Alkitab dengan anak-anak kita? Sudahkah kita membuat program untuk membantu membangun kebiasaan dan karakter rohani yang kuat dalam keluarga kita? Ayah harus selalu menguji dengan cermat tingkah laku rohaninya sendiri jika ia mengharapkan anak-anaknya memahami arti kesalehan yang sesungguhnya.
Selain itu, peran ayah juga sebagai pendukung ibu dalam perannya sebagai pengasuh. Ia harus memberikan dukungan kepada istrinya yang mengemban tanggung jawab dalam membesarkan anak-anak dan menjaga kerapian rumahnya. Hanya dengan jalan inilah ia dapat membantu istrinya dalam menjalankan tugas-tugasnya sehingga istrinya juga dapat tetap hidup berdamai dengan Allah, dirinya sendiri, anak-anaknya, dan yang terlebih penting, dengan suaminya sendiri.
Menjadi Teman Vs Menjadi Orang Tua
Kedua orang tua harus sepakat tentang masalah dan cara-cara menanamkan kedisiplinan: tentang pelanggaran mana yang cukup diberikan pengarahan dan tingkah laku mana yang membutuhkan disiplin yang lebih keras, bahkan mungkin hukuman badan. Sangatlah penting bagi orang tua untuk kompak dan konsisten dalam mendisiplinkan anak-anak mereka.
Keadilan tentu saja adalah sifat yang patut dihargai dalam persahabatan, tetapi hubungan orang tua-anak bukan dirancang untuk menjadi hubungan yang seperti itu.
"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu" (Ams. 22:6).
Allah memberikan tanggung jawab kepada orang tua untuk mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah kepada anak-anak mereka. Tetapi Ia juga memperingatkan orang tua agar tidak membuat marah anak-anak mereka.
"Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan" (Ef. 6:4).
Begitu banyak orang tua zaman sekarang yang terlalu berlebihan menerapkan prinsip "tidak membuat marah" anak-anak mereka sehingga mereka membiarkan anak-anak melakukan apa pun yang mereka inginkan. Mereka sudah melumpuhkan peran mereka sebagai orang tua dengan mempercayai bahwa membiarkan anak-anak menetapkan sendiri pilihan mereka yang tidak bijaksana akan lebih baik daripada membuat mereka "menderita" dengan mengatakan "tidak".
Jauh di kemudian hari, perlakuan memanjakan anak dapat merusak anak lebih dalam lagi. Bagaimana anak dapat mempelajari nilai-nilai orang tua mereka jika mereka tidak diajar menilai apa yang boleh dan apa yang tidak boleh mereka lakukan? Memberitahukan apa yang "harus" dilakukan anak adalah satu hal, tetapi proses belajar yang sesungguhnya terjadi ketika hal itu tampak dalam tingkah laku orang tua dan juga dilakukan oleh anak itu sendiri. Sebagai orang tua Kristen, kita perlu memohon hikmat Allah dalam segala hal yang berhubungan dengan pilihan bagi anak-anak kita. Kita juga perlu menyadari bahwa pilihan yang Allah kehendaki agar kita ambil atas nama anak-anak kita tidak selalu akan menyenangkan hati mereka dan terkadang juga membuat kita dikritik oleh orang-orang yang belum percaya. Namun, jangan sampai hal ini memengaruhi keputusan kita untuk mengikuti pimpinan Tuhan. Sebaliknya, kita harus semakin bersemangat karena sesungguhnya kita sedang menanggung suatu kesaksian yang penuh kuasa kepada dunia.
Menjadi Badan Sensor untuk Anak-Anak Anda
Perhatikanlah daftar film laris, lima puluh CD paling top, serta game komputer dan video game populer sekarang ini. Jika Anda mengamati dengan cermat, Anda mungkin akan terkejut melihat banyaknya kandungan kekerasan, percabulan, kebencian, seks, dan juga hal-hal anti-Kristen lainnya. Kadang-kadang hal-hal ini begitu jelas terlihat, tapi kadangkala terkubur di bawah permukaan dan diperlukan pengertian untuk dapat melihatnya. Mengapa ada begitu banyak hal busuk di sana? Sebab masyarakat sudah menerimanya sebagai sesuatu yang "normal". Nilai-nilai standar sudah diturunkan secara drastis dan umat Kristen pun sedang terseret ke dalamnya bersama-sama dengan seluruh isi dunia ini.
Tak ada kebaikan yang dapat kita peroleh dengan mengizinkan anak-anak kita dibombardir oleh gambar-gambar, lirik lagu, dan macam-macam hiburan yang tidak saleh.
"Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu" (Flp. 4:8).
Nasihat Paulus haruslah menjadi tolok ukur kita. Paulus tahu bahwa daya tarik dunia dapat secara perlahan-lahan memikat umat Allah, dan ini terjadi pada keluarga kita sekararang ini, sama seperti yang terjadi pada umat Kristen di Filipi pada masa itu. Janganlah takut untuk menyensor berbagai media yang akan dipergunakan anak-anak kita, anggaplah itu sebagai tugas yang diberikan Tuhan kepada Anda.
Sebagai orang tua Kristen, kita tentu memiliki pekerjaan yang memang telah diperuntukkan bagi diri kita. Karena itu, kita harus tetap yakin bahwa Tuhan akan menyediakan jawaban atas batasan apa yang perlu kita tetapkan bagi anak-anak kita. Ia telah menyediakan semua perlengkapan yang kita butuhkan: firman-Nya (Alkitab), Roh Kudus-Nya, dan karunia doa yang melaluinya kita dapat menyampaikan kekuatiran dan keprihatinan kita kepada-Nya. Kiranya Ia membimbing kita untuk menggunakan semua perlengkapan ini untuk menetapkan batasan yang baik bagi anak-anak kita dan untuk mengajarkan kepada mereka bagaimana menetapkan batasan bagi diri mereka sendiri.
Dengan mudah kita dapat melihat bahwa di dunia sekeliling kita, proses menetapkan batasan ini sudah tidak berjalan dengan semestinya. Kisah-kisah heboh di surat kabar tentang perilaku anak-anak yang lepas kendali sebenarnya hanya mengungkapkan sebagian kecil saja di antara begitu banyak kisah lainnya yang tidak sempat menjadi berita utama. Mengapa hal ini terjadi? Dan yang lebih penting lagi, teladan apa yang dapat kita berikan sebagai orang tua Kristen bagi keluarga-keluarga yang belum percaya? Mustahil menuliskan seluruh alasan kegagalan orang tua melaksanakan peran mereka sebagai pembuat batasan dalam keluarga sekarang ini, tetapi marilah kita menyinggung beberapa di antaranya:
1. Kedua orang tua bekerja di luar rumah mengakibatkan sejumlah besar anak harus tinggal di rumah sendirian sebelum dan setelah sekolah, demikian juga selama liburan sekolah. Pada dasarnya, anak-anak ini dibiarkan tumbuh sendiri.
2. Orang tua ingin bersikap "adil". Bagaimana kita dapat berkata "tidak" pada anak-anak kita sementara semua temannya diperbolehkan melakukan hal itu? Orang tua ingin menjadi teman bagi anak-anaknya. Dalam perjalanan membesarkan anak, orang dewasa biasanya akan sampai pada tahapan di mana mereka berharap keturunannya dapat memandang mereka sebagai rekan yang setara.
3. Masyarakat secara keseluruhan memperlihatkan toleransi yang semakin tinggi terhadap dosa dalam bentuk kekerasan yang diperlihatkan di berbagai media massa, isi yang berbau seks, dan penyimpangan tingkah laku.
Keluarga Kristen pun tidak terlepas dari situasi semacam ini. Namun, bagaimana cara kita menanganinya, itulah yang akan membuat perbedaan. Dengan menuruti perintah Allah, kita dapat memberikan teladan yang baik bagi orang lain dan pada saat yang sama memberikan kesaksian tentang iman kita kepada Yesus Kristus dan iman kita akan pemeliharaan Allah.
Hadir untuk Mengasuh
Peran Ibu
Sekarang ini, bukanlah hal yang aneh bila kedua orang tua bekerja, setidaknya bekerja paruh waktu. Dengan terus meningkatnya biaya hidup dan pendidikan, baik suami maupun istri dituntut untuk mencari nafkah demi menyokong keluarga mereka. Secara umum, diketahui dan diyakini bahwa karena tuntutan inilah, nilai-nilai kehidupan dan kerohanian keluarga telah terkena dampaknya. Dan karena alasan ini pula, sebaiknya setiap orang tua Kristen meninjau situasi keuangan mereka untuk menentukan apakah mereka bekerja karena mereka memang membutuhkan uang atau karena mereka ingin memenuhi target pendidikan dan cita-cita mereka serta menjalani hidup mewah. Perkataan berikut ini mungkin akan menyinggung cara hidup masyarakat modern, namun cukup pantas untuk direnungkan: "Keluarga akan mengalami masalah jika di rumah tidak ada sedikitnya satu orang tua yang mengasuh anak."
"Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging. Dan dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu." (Kej. 2:21-22).
Allah menciptakan wanita dari pria dan Ia menjadikan mereka berbeda untuk mengisi peran yang berbeda. Kita tahu bahwa pada hakikatnya wanita diperlengkapi dengan kemampuan untuk mengasuh dan memberi dukungan yang lebih baik dibandingkan pria. Dengan kehadirannya dalam tahun-tahun kritis pembentukan kepribadian, karakter, dan kebiasaan anak, ibu dapat melatih anak dengan lebih baik dalam jalan yang harus ditempuhnya.
Ketika istri menunaikan peran ini, suami dapat memenuhi perannya sebagai pemimpin rohani dan pemberi nafkah dengan lebih baik. Allah tidak ingin wanita bersaing dengan pria dalam hal ini, meskipun wanita tentu saja dapat dan harus memberikan bimbingan rohani bagi anak-anak mereka, serta memelihara keluarga dengan berbagai cara lainnya.
Namun, sekalipun seorang ibu telah memutuskan untuk tinggal di rumah selama tahun-tahun pembentukan dalam kehidupan anaknya, hal ini belumlah menjamin bahwa anak itu kelak akan menjadi seorang yang penurut dan penuh hormat. Dibutuhkan komitmen yang kuat, tekad, pengendalian diri, kebijaksanaan, iman kepada Tuhan, dan kasih yang besar untuk dapat menjadi seorang ibu yang sukses. Sekadar tinggal di rumah dan menjadi penjaga bayi bukanlah cara yang tepat untuk membesarkan seorang anak. Ia harus siap untuk menjadi seorang guru, perawat, tukang (untuk memperbaiki mainan yang rusak), supir, atlet, dan yang paling penting, hamba Tuhan.
Amsal 31 memberikan deskripsi yang indah tentang karakteristik seorang istri dan ibu yang sempurna. Wanita yang digambarkan dalam pasal ini, meski kemungkinan besar adalah suatu karakter gabungan, dengan indah melukiskan segala yang dapat dilakukan seorang wanita untuk kebaikan keluarganya.
Sedapat mungkin, wanita Kristen harus menolak godaan untuk bekerja di luar rumah jika tidak benar-benar perlu. Mintalah agar Tuhan menunjukkan jalan untuk menyesuaikan kondisi keuangan Anda sehingga Anda tidak perlu bekerja ketika anak-anak Anda berada di rumah. Tentu saja, ini haruslah merupakan keputusan pribadi, yang dibuat bersama suami Anda dan dengan doa.
Jika bekerja adalah satu-satunya pilihan Anda untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Anda harus mencari pekerjaan yang paling tidak mengganggu kehidupan keluarga Anda atau mungkin suatu pekerjaan yang dapat Anda lakukan ketika anak-anak berada di sekolah atau ketika suami Anda ada di rumah untuk menjaga anak-anak. Anak-anak membutuhkan orang tuanya dan keluarga yang belum percaya perlu melihat bahwa umat Kristen bersedia melakukan pengorbanan dalam hidup mereka demi kebaikan anak-anak mereka.
Peran Ayah
"Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka dari pada TUHAN, dan buah kandungan adalah suatu upah. Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuh di pintu gerbang." (Mzm. 127:3-5).
Dengan ibu yang berkonsentrasi menjadi pengasuh utama, ayah dapat lebih memusatkan perhatian dalam melakukan perannya sebagai pemimpin rohani keluarga, melatih anak-anaknya menjadi anak-anak Tuhan melalui teladannya.
Allah ingin agar setiap keluarga menjadi keluarga yang penuh kasih. Sebagai ayah, kita harus bertanya pada diri sendiri apakah kita penuh kasih, tidak hanya terhadap keluarga kita, tetapi juga menjalankan kasih seorang Kristen terhadap Tuhan, domba-domba-Nya, dan jiwa-jiwa yang tersesat. Allah juga ingin agar setiap keluarga menjadi keluarga yang berdoa. Sebagai pemimpin rohani dalam keluarga, apakah kita memberikan teladan? Apakah kehidupan doa kita kuat, sedang-sedang saja, atau lemah? Sudahkah kita mengajarkan pentingnya dan berharganya doa yang efektif dan membaca Alkitab dengan anak-anak kita? Sudahkah kita membuat program untuk membantu membangun kebiasaan dan karakter rohani yang kuat dalam keluarga kita? Ayah harus selalu menguji dengan cermat tingkah laku rohaninya sendiri jika ia mengharapkan anak-anaknya memahami arti kesalehan yang sesungguhnya.
Selain itu, peran ayah juga sebagai pendukung ibu dalam perannya sebagai pengasuh. Ia harus memberikan dukungan kepada istrinya yang mengemban tanggung jawab dalam membesarkan anak-anak dan menjaga kerapian rumahnya. Hanya dengan jalan inilah ia dapat membantu istrinya dalam menjalankan tugas-tugasnya sehingga istrinya juga dapat tetap hidup berdamai dengan Allah, dirinya sendiri, anak-anaknya, dan yang terlebih penting, dengan suaminya sendiri.
Menjadi Teman Vs Menjadi Orang Tua
Kedua orang tua harus sepakat tentang masalah dan cara-cara menanamkan kedisiplinan: tentang pelanggaran mana yang cukup diberikan pengarahan dan tingkah laku mana yang membutuhkan disiplin yang lebih keras, bahkan mungkin hukuman badan. Sangatlah penting bagi orang tua untuk kompak dan konsisten dalam mendisiplinkan anak-anak mereka.
Keadilan tentu saja adalah sifat yang patut dihargai dalam persahabatan, tetapi hubungan orang tua-anak bukan dirancang untuk menjadi hubungan yang seperti itu.
"Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu" (Ams. 22:6).
Allah memberikan tanggung jawab kepada orang tua untuk mengajarkan mana yang benar dan mana yang salah kepada anak-anak mereka. Tetapi Ia juga memperingatkan orang tua agar tidak membuat marah anak-anak mereka.
"Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan" (Ef. 6:4).
Begitu banyak orang tua zaman sekarang yang terlalu berlebihan menerapkan prinsip "tidak membuat marah" anak-anak mereka sehingga mereka membiarkan anak-anak melakukan apa pun yang mereka inginkan. Mereka sudah melumpuhkan peran mereka sebagai orang tua dengan mempercayai bahwa membiarkan anak-anak menetapkan sendiri pilihan mereka yang tidak bijaksana akan lebih baik daripada membuat mereka "menderita" dengan mengatakan "tidak".
Jauh di kemudian hari, perlakuan memanjakan anak dapat merusak anak lebih dalam lagi. Bagaimana anak dapat mempelajari nilai-nilai orang tua mereka jika mereka tidak diajar menilai apa yang boleh dan apa yang tidak boleh mereka lakukan? Memberitahukan apa yang "harus" dilakukan anak adalah satu hal, tetapi proses belajar yang sesungguhnya terjadi ketika hal itu tampak dalam tingkah laku orang tua dan juga dilakukan oleh anak itu sendiri. Sebagai orang tua Kristen, kita perlu memohon hikmat Allah dalam segala hal yang berhubungan dengan pilihan bagi anak-anak kita. Kita juga perlu menyadari bahwa pilihan yang Allah kehendaki agar kita ambil atas nama anak-anak kita tidak selalu akan menyenangkan hati mereka dan terkadang juga membuat kita dikritik oleh orang-orang yang belum percaya. Namun, jangan sampai hal ini memengaruhi keputusan kita untuk mengikuti pimpinan Tuhan. Sebaliknya, kita harus semakin bersemangat karena sesungguhnya kita sedang menanggung suatu kesaksian yang penuh kuasa kepada dunia.
Menjadi Badan Sensor untuk Anak-Anak Anda
Perhatikanlah daftar film laris, lima puluh CD paling top, serta game komputer dan video game populer sekarang ini. Jika Anda mengamati dengan cermat, Anda mungkin akan terkejut melihat banyaknya kandungan kekerasan, percabulan, kebencian, seks, dan juga hal-hal anti-Kristen lainnya. Kadang-kadang hal-hal ini begitu jelas terlihat, tapi kadangkala terkubur di bawah permukaan dan diperlukan pengertian untuk dapat melihatnya. Mengapa ada begitu banyak hal busuk di sana? Sebab masyarakat sudah menerimanya sebagai sesuatu yang "normal". Nilai-nilai standar sudah diturunkan secara drastis dan umat Kristen pun sedang terseret ke dalamnya bersama-sama dengan seluruh isi dunia ini.
Tak ada kebaikan yang dapat kita peroleh dengan mengizinkan anak-anak kita dibombardir oleh gambar-gambar, lirik lagu, dan macam-macam hiburan yang tidak saleh.
"Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu" (Flp. 4:8).
Nasihat Paulus haruslah menjadi tolok ukur kita. Paulus tahu bahwa daya tarik dunia dapat secara perlahan-lahan memikat umat Allah, dan ini terjadi pada keluarga kita sekararang ini, sama seperti yang terjadi pada umat Kristen di Filipi pada masa itu. Janganlah takut untuk menyensor berbagai media yang akan dipergunakan anak-anak kita, anggaplah itu sebagai tugas yang diberikan Tuhan kepada Anda.
Sebagai orang tua Kristen, kita tentu memiliki pekerjaan yang memang telah diperuntukkan bagi diri kita. Karena itu, kita harus tetap yakin bahwa Tuhan akan menyediakan jawaban atas batasan apa yang perlu kita tetapkan bagi anak-anak kita. Ia telah menyediakan semua perlengkapan yang kita butuhkan: firman-Nya (Alkitab), Roh Kudus-Nya, dan karunia doa yang melaluinya kita dapat menyampaikan kekuatiran dan keprihatinan kita kepada-Nya. Kiranya Ia membimbing kita untuk menggunakan semua perlengkapan ini untuk menetapkan batasan yang baik bagi anak-anak kita dan untuk mengajarkan kepada mereka bagaimana menetapkan batasan bagi diri mereka sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)